Tampilkan postingan dengan label Nyata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nyata. Tampilkan semua postingan

Lembayung Senja yang Kunanti

0



“Dik, Tante rindu. Tenanglah di sisi-Nya dalam celoteh lucumu.”
Merah jingga warnamu. Terlahir dalam iringan doa dan air mata haru. Terhias oleh tubuh lucu nan menggemaskan. Kamu tumbuh begitu sempurna. Tak tampak sedikit pun cela. Celotehmu melukiskan kelengkapan keluarga kecil yang belum genap dibangun setengah windu. Juga keceriaan lain bagi kakakmu yang masih juga lugu.
            Hari ini, aku mengiringmu. Bukan dengan canda tawa seperti biasa. Namun, dengan tangis duka. Selimut yang serupa warna bunga lembayung menutup tidurmu. Tidur dengan wajah yang lain. Ketenangan dalam kebahagiaan. Meski luka merongrongmu begitu rupa, senyum masih ada. Bukan lagi untukku.
            Pepohonan melambai pada arah perjalananmu. Goncangan di depan menghadang. Namun, kau tak jua gentar. Kau tak lagi merasa. Kau tak lagi menerima susu dalam botol yang selalu kusiapkan ketika kau terbangun.
            Duhai lembayung senja yang kunanti, aku belum sempat mendengarmu memanggilku “Tante”. Aku belum puas menimangmu hingga terlelap dalam tidur siang yang tenang. Aku masih ingin berbaring di sampingmu sembari memeluk dengan kehangatan. Lembayung senjaku, tenanglah dalam pelukan malaikat.

-yang terkenang,
Aufar Zayan Zaneeta Abidin
26 Oktober 2013—14 April 2014
Tenang di sisi-Nya, ya, Dik-

Menunggu Ilalang

0


Aku berada di persimpangan. Simpang dua. Antara psikologi atau sosiologi. Antara legenda atau novel Wisran Hadi. Antara moral atau kritik sosial. Bimbang tak berkesudahan.
            Tiga minggu sudah berlalu. Jalan masih buntu. Tergugu. Tak ada yang memberitahu jalan mana yang terbaik untukku. Empat semester telah berlalu. Aku belum berilmu. Lantas..., aku tak tahu.
            Rindu, aku rindu. Rindu pada ilalang yang mampu memberiku bisik syahdu. Ilalang yang memompa semangat beribu. Ilalang yang masih kutunggu.

Ibu Rr

0


Kisah ini adalah kisah dari seorang wanita hebat yang menginspirasiku.
Layaknya anak SMP baru masuk SMA, aku dengan semangat 45 mengikuti ekstrakurikuler karya ilmiah. Di ekstrakurikuler karya ilmiah, terdapat tiga orang pembimbing. Dua orang merupakan guru SMA-ku dan yang seorang lagi merupakan pembimbing dari luar SMA. Beliau merupakan seorang wanita cantik yang baik. Sebut saja namanya Ibu Rr.
Saat itu, aku ditempatkan sebagai anggota divisi Majalah Dinding (Mading) yang diampu oleh Ibu Rr. Pada mading edisi pertama, beliau menyuruhku membuat cerpen dan aku menurut. Sebelumnya, aku tak pernah membuat cerpen. Entah mengapa saat Ibu Rr menyuruhku membuat cerpen, aku patuh saja.
             Ibu Rr dengan setia menemani kami selama proses pembuatan mading. Beliau mengajari kami banyak hal tentang mading. Aku langsung jatuh cinta pada dunia jurnalistik sejak pertama kali Ibu Rr mengenalkanku pada jurnalistik. Aku menjadi sangat kagum pada Ibu Rr.
Mading pertama kami pun terbit. Banyak pihak yang terkesan dengan mading buatan anak-anak baru di bidang jurnalistik ini. Hal itu membuat kami semakin terlecut untuk maju.   Aku ingat saat itu Ibu Rr berkata padaku bahwa cerpen buatanku bagus. Aku hanya perlu lebih banyak belajar dan aku akan bisa membuat cerpen yang bermutu. Ibu Rr juga bilang bahwa esai yang aku buat bagus. Beliau ingin aku mengikutkan esaiku dalam lomba esai tingkat kabupaten yang saat itu sedang berlangsung.
Aku terharu. Itu adalah pujian pertama untuk tulisan pertamaku. Bisa dibayangkan bagaimana bahagianya aku saat itu. Aku dengan semangat membara mengirimkkan esaiku untuk diikutkan dalam lomba esai tingkat kabupaten. Lagi-lagi, Ibu Rr yang membantuku. Sayangnya, esaiku tak mendapat juara.
            Bulan telah berganti. Ibu Rr masih dengan tulus ikhlas mendampingi awak mading. Beliau masih terus memberi kami pelajaran tentang jurnalistik. Beliau juga sering menyumbangkan uangnya untuk membantu penerbitan mading saat kas mading menipis. Hal ini membuat awak mading malu. Kami berupaya menambal kekurangan uang untuk penerbitan mading dengan iuran. Setiap Ibu Rr mengajukan bantuan materialnya, kami selalu bilang kami masih ada uang kas.
Kami tahu Ibu Rr ikhlas memberi kami, tapi kami tak mau merampas haknya. Kami tahu gaji Ibu Rr untuk membimbing kami tak seberapa. Usaha beliau untuk mengajar kami tak pernah berbalas dengan imbalan yang pantas. Kami tak mau semakin membebaninya. Kami sudah merampas waktunya untuk bermain dengan putranya yang masih berusia 5 tahun. Kami tak mau merampas uangnya juga.
            Beberapa bulan berlalu, wanita cantik nan lembut itu tiba-tiba saja menghilang. Tak pernah kutahu apa sebabnya. Aku hanya tahu bahwa beliau tak berpamitan pada kami, awak mading. Kami tanyakan pada dua pembimbing ektrakurikuler karya ilmiah kami. Mereka diam. Kami tanya kakak kelas kami, mereka sama bingungnya dengan kami. Kami hubungi nomornya, tak pernah berbalas. Telepon pun tak terangkat. Kami bingung. Kami menangis.
            Satu tahun bersamanya, banyak pelajaran yang dapat ku petik. Aku semakin mencintai dunia tulis-menulis karena beliau. Aku mendapat banyak dorongan semangat dari beliau. Aku belajar arti sebuah pengorbanan dan ketulusan dari beliau. Ketulusan untuk memberi tanpa meminta balasan. Mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan terkadang uang untuk sebuah pelajaran yang selalu berharga.
            Aku selalu merindukannya. Saat beliau baru saja menghilang, aku sering menangisinya. Tak jarang aku memimpikannya. Sampai saat inipun, aku masih sering memimpikannya. Aku selalu sedih jika kawan-kawanku, awak mading angkatanku, menanyakan beliau. Aku tak pernah tahu harus menjawab apa.
            Beberapa tahun berlalu sejak peritiwa menghilangnya Ibu Rr. Kini aku berada di semseter empat jurusan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada (UGM). UGM adalah almamater Ibu Rr. Sastra Indonesia adalah dunia yang mulai kugemari sejak aku mengenal Beliau. Aku ingin meneruskan apa yang pernah Ibu Rr ajarkan padaku.

Diantara Tiga Jalur

0


“Genremu tuh nonfiksi. Lihat tuh cerpenmu aja kaya nonfiksi.” ucap salah seorang teman.
“Cerpennya bagus, tapi kata-kata yang kamu gunakan terlalu formal. Aku suka tulisanmu yang dulu. Bahasanya enak, topiknya anak muda banget. Hehehe...” ucap salah seorang teman yang lain.
“Ih, tulisanmu kok menye-menye banget sih. Cinta-cintaan, mana kata-katanya alay banget.” ini komentar teman yang lain.
            Halo... kata-kata dalam tiga komentar di atas bikin mikir lho. Jadi, aku ini ada di jalur yang mana? Komentar pertama menyatakan bahwa aku adalah orang nonfiksi. Komentar kedua menyatakan kekurangsukaan terhadap tulisan fiksi seriusku dan sambutannya terhadap tulisan fiksi populerku. Komentar ketiga mengritik pedas tulisan fiksi populerku. Kegalauan pun melanda. Mana diantara tiga genre tersebut yang harus aku seriusi?
            Ah... inilah resiko penulis amatir yang sangat bergantung pada mood. Genre tulisan sangat bergantung pada mood saat menulis. Maunya apa, ya itu yang ditulis. Asyik nulis fiksi serius hasilnya jadi serius banget, sampai susah dipahami. Asyik nulis fiksi populer, eh jadinya populer banget. Kata-kata alay menyebar ke seluruh isi cerita. Kalau lagi pengen nulis nonfiksi, telitinya nggak ketulungan. Aduh....
            Sering sih kepikiran buat menentukan satu genre saja. Namun, terlalu berat untuk memilih diantara tiga jalur tersebut. Ketiga genre tersebut belum ada yang bisa meyakinkanku untuk benar-benar memutuskan pilihan. Belum bisa menguasai ketiganya sih, tapi.... aku suka ketiganya. Tentunya, tergantung mood saat mau nulis sih. Huh, ya sudahlah. Perjalanan masih panjang. Masih banyak waktu untuk belajar dan menentukan pilihan. Biarkan hidup mengalir bagai air. Apapun genreku kelak, itu yang terbaik. Mungkin aku akanjadi seorang penulis fiksi populer. Mungkin juga aku akan jadi penulis nonfiksi. Mungkin lagi aku akan jadi penulis fiksi serius. Mungkin aku akan menjadi penulis nonfiksi, fiksi serius, dan fiksi populer. Atau mungkin aku malah tidak akan menjadi penulis ketiga genre tersebut. Percayakan semuanya pada Allah Yang Maha Kuasa.

Perjalanan Menuju Sastra Indonesia

0


Pagi ini, entah mengapa, aku kembali terkenang perjuangan masuk kuliah. Dulu, aku harus menelan kekecewaan di SNMPTN Undangan dan baru dilegakan di SNMPTN Tulis. Inilah kisah selengkapnya.
            Seperti teman-temanku yang lain, memasuki semester kedua kelas XII, aku sibuk mencari jurusan apa yang ingin kutuju. Aku tidak terlalu galau mencari universitas karena aku hanya memiliki satu tujuan universitas, UGM (Universitas Gadjah Mada). Ketika aku dituntut untuk masuk universitas keguruan oleh keluargaku, aku memasukkan nama UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) ke daftar cadangan. Kebetulan, SNMPTN Undangan memperbolehkan siswa mendaftar ke dua universitas. Kenapa aku memilih dua universitas yang berada di Jogja? Entahlah, mungkin karena diam-diam aku telah jatuh cinta pada kota tersebut.
            SNMPTN Undangan memperbolehkan siswa memilih enam jurusan dua universitas. Karena aku begitu tergila-gila dengan UGM, aku menaruh Komunikasi UGM di nomor satu, Administrasi Publik urutan kedua, dan Filsafat pilihan ketiga. Belakangan, aku sangat bersyukur karena aku tidak diterima ditiga jurusan tersebut...hehe. Universitas kedua, aku menempatkan UNY. Kenapa UNY? Pilihan pertama universitas kedua adalah PGSD. Yah, jurusan PGSD memang sedang booming kala itu. Sayangnya, aku tidak tertarik. Aku memilihnya hanya untuk melegakan ibu dan kakakku. Pilihan kedua aku menaruh Pendidikan Matematika. Pilihan ketiga, entahlah, aku sudah lupa.
            Awalnya, aku sangat optimis akan diterima di salah satu dari keenam jurusan tersebut. Pengumuman penerimaan akan keluar dua hari setelah pengumuman ujian. Beberapa hari sebelum pengumuman, aku searching mengenai sistem seleksi SNMPTN Undangan (hal yang sangat bodoh karena aku baru mencari info jauh hari setelah pendaftaran ditutup). Aku sangat kaget ketika mengetahui sistem seleksi. Sistem seleksinya tidak sesuai pikiranku. Aku berpikir yang diutamakan adalah nilai. Jadi, apabila aku tidak diterima di pilihan pertama aku masih punya harapan di pilihan kedua dan seterusnya asalkan nilaiku memenuhi. Sayangnya, sistem sebenarnya menjadikan pilihan pertama sebagai kunci utama akan diterima atau tidak. Jadi, pemilih utama suatu jurusan lebih diutamakan daripada yang memilih jurusan itu di pilihan kedua atau selanjutnya. Seketika itu, aku pupus harapan. Keoptimisanku yang awalnya menggila langsung turun drastis. Aku mencoba berpikir realistis, aku tidak mungkin diterima. Saat itu, aku dilema. Aku masih sangat optimis, tapi aku tahu aku akan kalah. Yah, di tengah keoptimisanku, aku mempersiapkan kekalahanku. Meskipun demikian, aku tetap saja sedih ketika pengumuman itu tiba. Prediksiku tepat.
            Selasa malam, 17 Mei 2011, aku ke warnet dengan ibuku untuk melihat hasil pengumuman. Aku tiba di warnet pukul 18.57 WIB. Pengumuman baru bisa dilihat pukul 19.00 WIB. Tiga menit menunggu terasa sangat lama. Meskipun aku tahu aku pasti tidak diterima, aku tetap penasaran melihat langsung. Akhirnya, tiga menit berlalu. Aku membuka pengumuman dan mendapati tulisan, “ANDA TIDAK LOLOS SELEKSI”. Yah, itu sudah kuduga. Aku melihat rona kekecewaan di wajah ibuku. Berulang kali beliau memintaku mengulang pengumuman. Satu hal yang membuatku lemas adalah aku telah mengecewakan orang-orang yang mendukungku.
            Ketika aku akan pulang, seorang teman sekelas menelpon. Dia menanyakan hasilku. Kukatakan bahwa aku tidak lolos. Dia pun bercerita bahwa dia tidak lolos juga. Dia mengatakan bahwa seorang teman sekelas kami ada yang lolos di UNNES. Antara iri dan ikut senang, aku berkata, “Itu sudah rezekinya dia. Santai aja, masih ada SNMPTN Tulis. Semoga rezeki kita ada di SNMPTN Tulis”. Kami pun sepakat akan mendaftar SNMPTN Tulis keesokan harinya karena pendaftaran akan segera ditutup. Ketika aku akan beranjak pulang, lagi-lagi seorang teman menelpon. Dia sahabatku. Dia menanyakan hasilku. Dia juga bercerita bahwa dia tidak diterima. Aku ingin menangis ketika mendengar nada suaranya yang sendu, namun aku berusaha menahan air mata ini. Aku harus tabah di depan ibuku. Beliau tidak boleh melihat kekecewaanku. Sudah cukup perih yang kurasakan ketika menyaksikan beliau kecewa.
            Seperti di sinetron-sinetron, gerimis tiba-tiba datang tanpa diundang. Langit seakan turut bersedih. Akhirnya, turunlah air mataku bersama turunnya titik-titik gerimis. Aku mengendarai motor di kegelapan malam dalam keadaan menangis. Aku lampiaskan beban hatiku, namun aku berusaha sekuat tenaga agar isakku tak terdengar oleh ibu. Meskipun demikian, aku rasa ibuku tahu kalau aku menangis. Beliau membiarkanku larut dalam tangisku. Begitu sampai rumah, aku langsung masuk kamar. Bapakku yang melihat keheningan dan wajah sayuku tak bertanya apa-apa. Beruntung, ibu dan bapakku pergi ke tempat seorang tetangga yang sedang punya hajat. Aku mengunci pintu kamar dan mulai menangis (lagi). Kali ini, aku tak menahan tangisanku. Kubiarkan adik dan nenekku bingung dengan isakku yang semakin keras. Aku lampiaskan semua beban hatiku. Sesudah agak tenang, aku mengabarkan pada kakak-kakakku bahwa aku tidak beruntung di SNMPTN Undangan. Kakak perempuanku, meski juga sedih, berusaha tidak memperlihatkannya. Dia mencoba menghiburku melalui SMSnya. Intinya, aku tidak boleh menyerah. Jalanku masih panjang. Masih ada SNMPTN Tulis yang bisa diperjuangkan. Berbeda dengan kakak perempuanku, kakak laki-laki keduaku tidak pandai menyembunyikan kekecewaannya. Dia yang biasanya terlihat antusias dan akan membalas SMS-ku dengan telpon, kali itu hanya membalas dengan SMS. Membaca dua SMS kakakku membuat aku kembali menangis. Aku telah mengecewakan mereka.
            Setelah tenang (kembali), aku menelpon sahabatku yang tadi. Suaranya menunjukkan dia baru saja menangis, dia bilang, dia sedih melihat bapaknya yang langsung terdiam begitu mengetahui hasilnya. Aku pun bercerita demikian. Akhirnya, kami sama-sama tertawa mengetahui bahwa kami baru saja menangis. Sebenarnya, tawa kami itu tawa kebohongan karena kami tengah berurai air mata. Kami tertawa sambil menangis. Kami mencoba melupakan kesedihan dengan mengingat hal-hal gila yang pernah kami lakukan. Dalam catatatn harianku, aku menulis, “Aku tahu dia sedih, dan dia tahu aku juga sedih. Kami tak membahas kesedihan kami. Kami hanya membahas nasib kami (Selasa, 17/5/11)”.
            Paginya, aku dan beberapa orang teman yang tidak diterima mendaftar SNMPTN Tulis. Aku memilih Sastra Indonesia UGM pada urutan pertama dan PGSD UNY pada urutan kedua. Ibu dan kakak perempuanku tetap memaksa aku untuk masuk keguruan sehingga aku memilih PGSD UNY, meski di urutan kedua. Aku memilih Sastra Indonesia karena aku patah hati dengan Komunikasi. Aku hanya ingin masuk jurusan yang ada hubungannya dengan dunia tulis menulis. Saat itu, Sastra Indonesia sangat menggodaku. Sebelumnya, aku sempat ikut try out UM UGM yang diadakan oleh Fakultas MIPA. Aku juga mendaftar UM (Ujian Masuk) UGM, namun UM UGM dibatalkan sehingga aku dan teman-teman yang mendaftar harus ke UGM untuk mengambil uang pendaftaran kami. Aku dan empat temanku tersesat di UGM yang luas untuk mendapatkan kembali uang pendaftaran kami. Okey, kembali ke SNMPTN Tulis.
SNMPTN Tulis ini juga penuh perjuangan. Aku dan empat orang teman wanita, termasuk sahabatku, nge-kos di salah satu rumah di daerah Samirono. Aku melalui ujian tanpa persiapan apapun. Aku tidak belajar sama sekali. Malam sebelum ujian, kami malah asyik main-main ke Malioboro. Malam berikutnya, kami asyik saling curhat. Ketika ujian SNMPTN Tulis berakhir, kami langsung drop. Siang hari setelah ujian berakhir, kami mendapatkan kunci jawaban ujian SNMPTN Tulis yang dibagikan oleh sebuah bimbingan belajar. Kami mencocokkan kunci itu dengan jawaban kami. Hasilnya, banyak sekali soal yang kami jawab dengan tidak tepat. Kami menghitung-hitung peluang kami diterima yang ternyata sangat kecil. Kami patah semangat dan mulai menggila. Kami membuat kos sangat berisik dengan kegilaan-kegilaan kami hingga salah seorang mbak kos menegur kami...hahaha
            Satu bulan telah berlalu. Aku menjalani hari-hariku seperti biasa. Aku sama sekali tidak memikirkan SNMPTN Tulis. Aku bahkan lupa kalau aku tengah berjuang dan menunggu pengumuman. Aku tidak pesimis, tapi juga tidak optimis (lalu apa namanya, ya?). Aku tidak seantusias dulu ketika membuka pengumuman. Aku bahkan malas membuka pengumuman. Alhasil, aku meminta tolong kakak perempuanku untuk membuka pengumuman. Seorang teman SMP sangat menyesalkan sikapku yang tidak mau membuka pengumuman dengan alasan takut. Dia bahkan mengata-ngatai aku dengan kata-katanya yang menohok hati. Meskipun demikian, aku tetap enggan membuka pengumuman. Aku biarkan temanku berkicau dengan kata-katanya yang menyatakan bahwa aku pengecut, mental tempe, dan segudang kata-kata lain yang tak kalah pedas. Aku mengatakan bahwa aku tidak ingin kecewa seperti teman-temanku yang telah membuka pengumuman dan ternyata mereka belum beruntung. Dia mengatakan, “Ya Allah, kasihan banget. Kamu gitu karena kamu ga bisa yakinin diri kamu sendiri. Bukannya optimis, malah pesimis. Harusnya kamu kasih teman-teman kamu semangat, bukannya malah ikut frustasi. Sedih pasti sedih saat teman ga diterima, tapi kamu harus tetap semangat dan optimis kalau kamu bisa”.
            Pukul 23.00 WIB, kakak perempuanku baru menelponku. Dia mengatakan bahwa aku tidak diterima. Aku langsung syok dan menangis. Entah saat itu kakakku berbicara apa, aku sudah tidak mendengarnya. Aku kembali fokus ketika kakakku menyuruh aku mengambil kartu ujianku. Dia menyuruhku untuk menyimak kata-kata yang akan dia ucapkan. Kakakku mengucapkan beberapa nomor yang sebelum selesai sudah aku potong. Aku berteriak, “Sastra Indonesia UGM,” dan kakakku bilang, “Ya,”. Aku masih bingung, ada apa dengan Sastra Indonesia? Kakakku bilang, aku tidak diterima di sana, juga tidak di PGSD UNY. Kakakku meminta aku membangunkan ibu. Dia ingin berbicara dengan ibu. Ketika telpon berpindah ke ibu, kakakku bilang, “Siapkan uang untuk biaya registrasi”. Aku kaget. Ada apa ini? Ibu memastikan, dan kakakku bilang aku diterima di Sastra Indonesia UGM. Tangisku keluar lagi, begitupun ibu. Telpon kurebut, dan aku memastikan sekali lagi. Kakakku bilang, “Ya, kamu diterima di Sastra Indonesia UGM”. Ah...betapa leganya.
            Paginya, sahabatku meng-SMS-ku. Dia menyatakan bahwa aku diterima di Sastra Indonesia UGM. Aku yang baru bangun tidur dan masih linglung hanya bilang, “Iya po?”. Aku lupa kalau tadi malam aku sudah diberitahu kakakku. Itu bagian yang paling kacau. Aku lupa kalau aku sudah diterima dan tidak percaya ketika sahabatku memberitahukan kabar tersebut. Namun demikian, aku masih menyimpan kesedihan mendalam. Pasalnya, dua sahabatku masih belum diterima. Impian untuk kos bareng di Jogja kandas seketika. Kami harus berpisah. Aku ke Jogja, seorang sahabat ke Jakarta, dan seorang lagi tetap di Purworejo.
            Masa registrasi merupakan masa-masa yang penuh perjuangan (juga). Aku tidak bisa menahan kebingunan ketika hampir setengah uang daftar ulang dikembalikan oleh petugas bank. Saat akan ke Jogja naik kereta, aku selalu sampai di stasiun ketika kereta sudah berjalan menjauh dari stasiun. Ketika naik bus, aku dan ibuku harus berdiri selama satu jam dan dikelilingi anak-anak kecil yang muntah-muntah. Sumpah, itu pengalaman tak telupakan, ketika aku melihat beberapa anak kecil yang duduk di kanan, kiri, dan depanku serempak muntah-muntah. Aku khawatir aku akan ikut muntah karena aku adalah orang yang gampang mabuk darat. Akhirnya, aku memejamkan mata sambil berpegangan erat pada kursi samping kanan-kiriku agar tak jatuh. Belum lagi perjuangan ketika harus mengantri di DAA (Direktorat Administrasi Akademik) untuk mengumpulkan berkas-berkas. Aku pergi pagi dan pulang malam.
Sekarang, aku berada di universitas impianku, UGM, dan berada di jurusan Sastra Indonesia. Aku sangat bersyukur berada di jurusan ini. Pasalnya, saat SMA, aku sangat menyukai dunia jurnalistik dan dunia tulis-menulis. Aku ditolak dunia jurnalistik, dan aku masuk dunia tulis-menulis. Sepertinya, aku kurang berbakat di dunia jurnalistik, meskipun aku sangat berminat. Sastra Indonesia lebih mendukung minat sekaligus bakatku. Di Sastra Indonesia, aku belajar banyak hal mengenai bahasa dan sastra. Aku mempelajari banyak teori seputar bahasa dan sastra, sekaligus prakteknya. Aku sangat bersyukur dengan kehidupanku sekarang. Saat ini, aku tengah mencoba peruntunganku mewujudkan salah satu mimpiku dalam hal bahasa dan sastra. Aku akan terus berusaha.
THIS IS REAL!

Sabtu, 17 November 2012