Analisis Novel Musim Hujan Kali Ini

2




Musim Hujan Kali Ini  merupakan novel karya Kalpata 1234. Musim Hujan Kali ini merupakan novel populer jenis teenlit dengan sasaran pembaca remaja berusia belasan tahun. Novel ini diterbitkan tahun 2006 oleh penerbit Serambi Ilmu Semesta. Musim Hujan Kali Ini  menceritakan mengenai tokoh bernama Ve yang mengalami dilema karena dijodohkan oleh orang tuanya. Seolah ditakdirkan selalu tak punya pilihan, tokoh Ve terpaksa menerima perjodohan tersebut dan menerima tokoh Fae menjadi suaminya. Setelah menikah, tokoh Ve berusaha membuat tokoh Fae membencinya dengan bersikap sinis dan tak acuh. Meskipun demikian, usaha tokoh Ve tidak pernah membuahkan hasil. Tokoh Ve tidak bisa membuat tokoh Fae menceraikannya. Tokoh Fae malah membuat tokoh Ve mengalami pergolakan batin. Tokoh Ve mulai jatuh cinta pada suaminya yang dikenalnya melalui perjodohan. Namun, pernikahan mereka terancam pisah setelah mama tokoh Fae meninggal. Ancaman akan perpisahan membuat tokoh Ve sadar bahwa ada perasaan lebih yang dia rasakan pada tokoh Fae. Tokoh Ve berusaha meyakinkan tokoh Fae bahwa tokoh Ve ingin memperbaiki sikapnya. Akhir cerita, tokoh Ve menyerahkan hati dan cintanya pada tokoh Fae. Kedua tokoh hidup bahagia layaknya pasangan suami-istri lain. Berikut analisis dari novel Musim Hujan Kali Ini karya Kalpata 1234.
A.  Sampul Novel Musim Hujan Kali ini
Sampul novel Musim Hujan Kali ini menggunakan paduan warna-warna gelap, yaitu: hijau tua, merah marun, hitam, dan cokelat tanah. Sampul menggambarkan seeorang gadis berwajah murung yang sedang berdiri di tengah hujan sambil memegangi payung berwarna merah. Gadis tersebut sedang memandang bayangannya di genangan air. Uniknya, bayangan yang terlihat oleh gadis tersebut tidak sama dengan dirinya. Bayangan di genangan air tersebut memperlihatkan seorang gadis lincah yang sedang menari dengan riang. Bayangan tersebut merepresentasikan kehidupan tokoh sebelum menikah, sedangkan gambar gadis yang murung itu representasi kehidupan tokoh setelah menikah. Tokoh berpikir bahwa apabila ia menikah di usia muda, maka kebebasannya akan terbelenggu sang suami sehingga tokoh menjadi murung. Tokoh pun berpikir bahwa kehidupannya setelah menikah tidak akan bahagia.
Di samping kiri gambar gadis yang memakai payung, terdapat tulisan judul novel Musim Hujan Kali ini. Judul ini berhubungan erat dengan jalan cerita novel. Judul ini juga diperkuat dengan hujan yang digambarkan dalam sampul. Maksud dari judul dan gambar sampul tersebut adalah cerita dalam novel itu terjadi pada suatu musim hujan. Novel ini memang berawal saat musim hujan mulai datang dan berakhir saat masih musim hujan.

B.  Tema dalam Novel Musim Hujan Kali ini
            Tema novel Musim Hujan Kali ini adalah pernikahan terpaksa karena perjodohan orang tua. Tokoh Ve oleh orang tuanya dipaksa menikah dengan tokoh Fae, begitupun sebaliknya. Tokoh Ve dipaksa menikah karena dirasa telah cukup umur dan orang tuanya tidak ingin tokoh Ve terjerumus ke pergaulan yang tidak baik mengingat tokoh Ve adalah seorang model. Tokoh Fe dipaksa menikah karena hidupnya telah mapan dan umurnya sudah cukup. Mama tokoh Ve ingin putranya ada yang mendampingi apabila ia meninggal mengingat sakit jantungnya kian parah.
Meskipun novel ini mengangkat tema yang sering ditulis oleh penulis lain, novel ini menjadi unik karena ide cerita yang tidak biasa. Ide cerita novel ini memiliki keunikan tersendiri. Tokoh utama yang hidup di kota metropolitan dan bekerja sebagai model belum pernah berpacaran dan menikah dengan cara dijodohkan. Kepolosan tokoh utama dan gaya humoris juga menjadi nilai tambah novel ini.

C.  Alur dalam Novel Musim Hujan Kali ini
Alur novel ini merupakan alur renggang dengan sedikit tokoh. Kerenggangan alur tersebut mengakibatkan konflik yang terjalin hanya berpusat pada satu masalah. Dalam novel ini, konflik terbatas pada masalah kehidupan cinta tokoh Ve. Novel ini diceritakan runtut dari awal masalah hingga akhir cerita sehingga novel ini memiliki alur konvensional. Kejadian yang diceritakan dalam novel ini berurutan dan membentuk sistem cerita yang menyatu.
Pada awal cerita, konflik sudah mulai terbangun. Cerita berawal dari tokoh mama yang mengabarkan pada tokoh Ve bahwa dia akan dijodohkan dengan anak kolega papanya. Konflik dimulai ketika tokoh Ve tidak setuju dengan perjodohannya dan berencana akan menggagalkan rencana perjodohannya. Di sisi lain, usaha tokoh Ve untuk menggagalkan perjodohannya tidak pernah membuahkan hasil karena selalu dapat dipatahkan oleh orang tuanya. Cerita berjalan dengan tokoh Ve yang akhirnya menerima perjodohannya dengan berat hati.
Konflik mulai naik ketika tokoh Ve sudah menikah dengan tokoh Fae. Tokoh Ve berusaha membuat sikapnya di hadapan tokoh Fae kejam agar tokoh Fae membencinya dan menceraikannya. Sayangnya, tokoh Fae tidak pernah patah semangat, tokoh Fae malah banyak mengubah sifat tokoh Ve. Tokoh Ve tidak dapat membuat tokoh Fae membencinya, tetapi malah tokoh Ve yang mengalami banyak perubahan, termasuk masalah perasaannya pada tokoh Fae. Keputusasaan tokoh Ve akibat tidak dapat lepas dari pernikahannya dengan tokoh Fae dilampiaskan dengan pulang ke rumah orang tuanya.
Cerita menuju klimaks ketika mama tokoh Fae meninggal. Tokoh Ve telah memutuskan akan kembali ke rumah suaminya, tetapi dia tidak mendapati tokoh Fae di rumah. Belakangan tokoh Ve baru tahu bahwa mama tokoh Fae masuk rumah sakit. Tokoh Ve menyusul suaminya ke Bandung. Tokoh Fae dan tokoh Ve berpura-pura mesra di depan mama tokoh Fae yang tengah sakit parah. Bahkan, tokoh Ve mengatakan bahwa dia tengah hamil anak Fae. Mama tokoh Fae yang bahagia mendengar kabar tersebut akhirnya meninggal dengan terseyum.
Konflik utama muncul setelah mama tokoh Fae meninggal. Tokoh Fae menjadi seorang pemurung dan tidak mengacuhkan tokoh Ve. Kondisi tokoh Fae membuat tokoh Ve merenungkan segala hal yang sudah dia lalui bersama suaminya. Pada suatu malam, tokoh Ve memberanikan diri untuk berbicara dari hati ke hati dengan tokoh Fae. Di luar dugaan, tokoh Fae menawarkan perceraian pada tokoh Ve.
Cerita menuju antiklimaks ketika tokoh Ve yang mulai mencintai tokoh Fae menolak usulan bercerai dari tokoh Fae. Tokoh Ve berusaha meyakinkan tokoh Fae bahwa dia tidak ingin berpisah dengan tokoh Fae. Akhirnya, tokoh Fae dan tokoh Ve berjanji akan menghadapi semua masalah bersama-sama. Tokoh Fae dan tokoh Ve sepakat untuk meneruskan pernikahan mereka. Cerita berakhir bahagia dengan bersatunya cinta tokoh Ve dan tokoh Fae.

D.  Karakter dalam Novel Musim Hujan Kali ini
            Novel Musim Hujan Kali ini memiliki banyak tokoh yang terlibat dalam cerita. Kebanyakan tokoh hanya merupakan tokoh pembantu yang hanya muncul sesekali. Tokoh yang banyak muncul dalam jalan cerita novel ini adalah Ve, Fae, mama Ve, Bella, Marlo, Darren, Jetta, dan mama Fae. Berikut akan dibahas beberapa karakter tokoh yang cukup mendominasi dalam jalan cerita novel Musim Hujan Kali ini.
1.    Ve
Tokoh Ve merupakan tokoh utama novel Musim Hujan Kali ini. Tokoh Ve adalah seorang gadis cantik, cerdas, pemegang sabuk hitam karate, dan model iklan berbakat. Usianya sudah 21 tahun, tetapi sifat tokoh Ve masih kekanak-kanakan. Tokoh Ve adalah tipe gadis keras kepala yang pantang menyerah. Pada saat akan dijodohkan, tokoh Ve berusaha sekuat tenaga untuk menolak perjodohan itu, meski pada akhirnya ia terpaksa menerima.
Aku tidak akan lari. Tapi juga tetap tidak akan mau menerima perjodohan itu,” tegasku pada Raisa di tengah-tengah acara lari pagi kami Kamis pagi itu (1234, 2006: 51).

            Tokoh Ve memiliki karakter yang sulit diatur dan suka berbuat semaunya. Tokoh Ve tidak mau melakukan sesuatu yangdi luar kebiasaannya. Tokoh Ve dapat dikatakan sebagai gadis metropolitan yang matrelialistik. Tokoh Ve cenderung mengukur segala sesuatu dari segi materi. Sifat ini terbukti dari penggalan berikut:
...................................................................................................................
Aku pribadi, seperti umumnya perempuan di zaman ini, cenderung memilih materi. Jadi kesimpulannya, bagaimana kalau sesuatu yang selama ini menjadi hasrat terpendamku saja? Sebuah mobil yang stabil dipacu dalam kecepatan tinggi! (1234, 2006: 129).
            ...................................................................................................................
                        Seperti kata Fae, karakterku adalah orang yang sulit diatur dan suka berbuat semaunya. Bagaimana mungkin ada yang bisa membuatku mau melakukan sesuatu yang di luar kebiasaanku? (1234, 2006:157)
...................................................................................................................

Meskipun demikian, tokoh Ve adalah gadis mandiri yang tidak ingin menyusahkan orang tua. Di usia 21 tahun, tokoh Ve sudah bekrrja sebagai model iklan dan membiayai kuliahnya sendiri. Sifat lain yang dimiliki tokoh Ve adalah tidak pandai menutupi perasaannya dan cenderung konyol. Di lidah dia bilang tidak, tetapi di hati dia bilang iya. Tokoh Ve diceritakan sering keceplosan mengungkapkan perasaan yang sebenarnya ingin disembunyikannya. Tokoh Ve juga merupakan tipikal orang yang spontan. Ketika dihadapkan pada pertanyaan yang menyudutkan, tokoh Ve cenderung menjawab dengan jawaban yang konyol dan tidak masuk akal.
Lirih aku pun memohon, “Sudah, sudah. Aku mengerti. Sekarang lepaskan pakaianku.”
“Eh?” gumam Fae, bingung.
            Tapi dia benar. Apa yang baru saja kukatakan? Lepaskan pakaianku?
Tidak, tidak. Bukan pakaian, melainkan tangan. Seharusnya tangan! (1234, 2006:181).

            Karakter tokoh Ve menjadi unik karena terjadi perubahan karakter pada tokoh Ve. Sebelum menikah, tokoh Ve tidak pernah mengenal pekerjaan rumah tangga. Tokoh Ve tidak pernah masuk dapur dan tidak pernah membersihkan rumah. Setelah menikah, tokoh Ve mulai belajar memasak. Tokoh Ve merasa malu pada tokoh Fae yang pandai memasak. Tokoh Ve bahkan diam-diam membuatkan brownies untuk orang tua dan adik-adiknya. Tokoh Ve juga mulai rajin melakukan perkerjaan rumah tangga, seperti mencuci, menyetrika, dan menyapu lantai. Awalnya, tokoh Ve melakukan semua pekerjaan itu karena terpaksa. Namun, seiring berjalannya waktu, tokoh Ve mulai menikmati rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga.

2.    Fae
Tokoh Fae adalah lelaki metropolitan yang cerdas, mapan, dan tampan. Di usia 26 tahun, tokoh Fae telah memiliki rumah dan sebuah mobil yang dibeli dari hasil kerjanya sendiri. Berikut kesan pertama tokoh Ve ketika bertemu tokoh Fae.
Yang terlihat olehku justru sesosok ramping dengan kulit kecokelatan terbakar matahari yang bersih dan agak bercahaya. Sebuah wajah penuh ketenangan yang benar-benar memikat seperti yang pernah dikatakan Mama.  Dan, saat  bibit itu melempar sebuah senyum datar ke selimutku, cukup membuat darah tubuhku berdesir cepat dan membuat bagian pikiranku yang menampung ingatan akan Darren seketika tertutup (selama sampai dua hari kemudian aku kembali bertemu Darren di kampus) (1234, 2006: 61).

            Tokoh Fae adalah laki-laki yang sangat menghargai wanita dan takut kehilangan wanita yang dicintainya. Tokoh Fae adalah sosok bertanggung jawab,  lembut, dan antikekerasan. Tokoh Fae juga pandai memasak dan tidak malu mengerjakan pekerjaan rumah.
Aku pun bergegas ke dapur yang letaknya sebelah ruang makan... peralatan masak berantakan!
Tentu aku tak percaya begitu saja kalau itu bukti bahwa dia baru saja memasak. Mengikuti naluri yang lumayan peka, aku pun segera beralih ke kulkas. Sialnya, di sana aku justru mendapati kenyataan yang lebih mengerikan lagi. Daging beku dan sayur-sayuran mentah! Padahal kemarin tidak ada! (1234, 2006: 145-146).

Tokoh Fae adalah pekerja keras yang tidak mudah menyerah. Tokoh Fae terus berjuang untuk meluluhkan hati tokoh Ve. Di sisi lain, tokoh Fae bisa menjadi sangat rapuh ketika harus kehilangan orang yang sangat dia sayangi. Ketika mamanya meninggal, tokoh Fae berubah menjadi orang yang pemurung dan pendiam. Namun, kesedihan tersebut dapat segera diatasi ketika masalahnya dengan tokoh Ve pun teratasi.

3.    Darren
Tokoh Darren merupakan sosok laki-laki tampan berpostur tubuh atletis. Tokoh Darren merupakan anggota sebuah kelompok motor yang suka kebut-kebutan dan menyukai motor yang suaranya meraung-raung. Tokoh Darren juga bisa capoeira dan memiliki banyak pengalaman berkelahi. Tokoh Darren memiliki tinggi badan sekitar 170 cm.
...................................................................................................................
Darren bisa capoeira dan juga anggota sebuah kelompok motor. Pengalaman berkelahinya banyak. Sementara, dia hanya sedikit lebih tinggi dari Darren yang kuperkirakan sekitar 170 senti. Tahu apa soal berkelahi? Kenapa tidak menghindar saja? (1234, 2006:102).
...................................................................................................................
Masalahnya, bukan karena Darren adalah anggota sebuah kelompok motor dan suka kebut-kebutan, melainkan Darren yang kebetulan pernah beberapa kali bertandang ke rumah punya motor yang suaranya “meraung-raung”! (1234, 2006:30).
...................................................................................................................

Tokoh Darren adalah teman kuliah tokoh Ve. Tokoh Darren memendam rasa cinta pada tokoh Ve. Tokoh Darren merasa patah hati ketika mengetahui tokoh Ve dijodohkan oleh orang tuanya. Namun, tokoh Darren adalah lelaki yang pantang menyerah dan pemberani. Tokoh Darren mendatangi orang tua tokoh Ve dan menyatakan rasa cintanya pada tokoh Ve. Tokoh Darren megambil keputusan untuk melamar tokoh Ve demi membuktikan rasa cintanya. Tokoh Darren memiliki kemauan yang keras.
 “Saya ingin melamar Via,” tuturnya tegas menjelaskan maksud kedatangannya pada Papa dan Mama setelah kami berempat berkumpul di ruang tamu. Tanpa Fae yang untuk sementara terpaksa kutinggal di teras. “Memang saat ini saya belum punya apa-apa yang bisa dibanggakkan maupun kecukupan materi untuk hidup berkeluarga. Tapi saya berusaha keras untuk menjadi suami yang baik baik istri saya. ” (1234, 2006:98).

E.  Sudut Pandang dalam Novel Musim Hujan Kali ini
Sudut pandang yang digunakan dalam novel ini adalah sudut pandang orang pertama pelaku utama. Karakter utama dalam novel ini bercerita dengan kata-katanya sendiri. Dalam novel ini, Ve menjadi tokoh sentral yang menceritakan segala kejadian yang terdapat dalam jalan cerita novel.
Ya, aku, Sylvia Anggraeni, si model iklan media cetak yang cukup dikenal dan merupakan bintang pelajar di fakultasnya ini dijodohkan (1234, 2006:7).

Penulis menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku utama dengan gaya yang unik. Penulis terkesan menggambarkan tokoh utama sebagai sosok yang sombong karena banyak paragraf menggambarkan kepercayaan diri tokoh utama yang berlebihan. Namun, kepercayaan diri tersebut malah menjadi nilai lebih novel ini karena apa yang disombongkan oleh tokoh utama memang apa yang menjadi prestasi dan kepunyaannya. Kesombongan ini malah bisa menjadi pelecut semangat pembaca agar bisa menjadi berprestasi seperti si tokoh utama.

F.   Latar dalam Novel Musim Hujan Kali Ini
Novel ini mengambil latar tempat di dua kota besar Indonesia, yaitu Jakarta dan Bandung. Namun, latar tempat yang lebih dominan adalah di wilayah Jakarta. Latar tempat di Jakarta berada di rumah orang tua Ve, rumah Fae dan Ve, dan beberapa tempat lain yang mendukung jalan cerita novel. Latar tempat di Bandung berlokasi di sebuah rumah sakit dan rumah orang tua Fae.
...................................................................................................................
Bandung, kota kelahiran Fae, adalah sebuah kota yang terletak di daerah pegunungan yang sepengetahuanku tak kalah kumuh dna gersangnya dari Jakarta-ku (1234, 2006:55).
...................................................................................................................
Sekarang aku sedang berada di dalam kereta eksekutif menuju Bandung. Hanya dengan bekal satu tas travel berisi beberapa potong pakaian yang sempat kuisikan sebelum meninggalkan rumah (1234, 2006:218).
...................................................................................................................

Latar waktu novel ini adalah pada suatu musim hujan. Novel ini dikisahkan dari awal musim hujan mulai datang dan berakhir juga pada saat masih musim hujan. Latar ini dibuktikan dalam beberapa kutipan berikut:
...................................................................................................................
Bulan ini agaknya bulan kelabu bagiku. Awan mendung seolah membayangi setiap langkahku. Padahal musim hujan belum lama berjalan (1234, 2006:95).
...................................................................................................................
Di tengah perjalanan hujan deras. Aku terpaksa berteduh dulu lumayan lama. Kautahu, aku pulang dengan motor (1234, 2006:291).”
...................................................................................................................

Tentang Kamu dan Rindu

0

Senja itu, hujan turun melalui titik-titik kecil yang indah. Kau memandangku dari kejauhan yang tak terlihat oleh mata siapapun, kecuali aku. Kau tiupkan kata cinta yang dibawa angin ke seberang.
Kita bertemu dalam sebuah titik. Bersitatap dalam diam yang penuh kehangatan. Ah, ya, tentu tak akan ada dingin ketika kita bersama.
Pada tatap selanjutnya, aku tahu apa yang kau tahu. Hati kita saling bicara meski mulut sama-sama terkunci. Semesta mendukung tatap mata kita yang tak pernah mendung.
Pada detik berikutnya, kau berkisah tentang apa saja.
Kau tahu, aku selalu suka dengan semua kisahmu. Bahkan, kisah remeh temehmu kuingat dengan sangat jelas. Aku mencatatnya dalam hati. Kusimpan rapat-rapat agar ikatannya tak mudah lepas.
Kau tahu, aku juga selalu suka menatapmu. Tatapan dalam setelah lamanya penantian.
Jika kau lihat dengan benar, ada sayang pada binar mataku. Kau pernah menyadarinya?
Aku tak tahu lagi bagaimana cara mengatakannya. Bahkan, sekarang aku sudah kepayahan menghitung rindu. Rasanya tak akan pernah sampai sekalipun dengan bantuanmu.
Bagaimana caraku menuntaskan rindu ini? Tolong beri tahu aku!
Kau sudah seperti candu. Datang diam-diam, merasuk secara dalam, dan menetap selamanya. Tanpa pernah kuminta, kau tak memberiku jeda. Aku gagap karenamu, tetapi rindu selalu.

Sawunggalih Utama, 29 November 2016
08.40 WIB

Kasta, Kita, Kata-Kata

0

Alhamdulillah... novel perdana ini telah resmi diluncurkan ke pasaran sejak bulan Februari lalu. Antusiasme pembaca cukup tinggi dilihat dari banyaknya pesan yang masuk ke inbox Facebook ataupun mention Instagram.
            Rata-rata, pembaca mengaku suka dan kagum dengan sosok Ajeng yang lugu. Banyak pula yang berharap cerita antara Ajeng dan Galih tidak berhenti sampai di situ. Lebih banyak lagi, pembaca berharap segera ada karya kedua dan seterusnya untuk segera dinikmati.
            Sebagai penulis pemula, saya tentu senang; dan tidak dapat dipungkiri bahwa juga merasa bangga; pembaca menyukai karya saya. Bahkan, bersedia memberikan apresiasi.
            Karya ini lahir dengan jalan yang berliku. Di tengah padatnya jadwal kuliah, freelance, persiapan KKN, dan derai arti mata perpisahan dengan orang terkasih. Melalui perjalanan berliku itu, saya sadar bahwa novel ini adalah karya berharga, setidaknya untuk pribadi saya.
            Melalui karya sederhana ini, saya tidak hanya ingin menunjukkan keagungan cinta. Saya ingin berkata bahwa, “Ini, loh, hidup harus berjuang! Hidup harus saling berguna untuk sesama! Hidup harus terus berjalan! Hidup tidak boleh menyerah!”.
            Mungkin perjuangan Ajeng dan Galih untuk bisa diakui sudah biasa terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Namun, perjuangan mereka dalam melawan keterbatasan; hidup dalam momok Afasia dan Aleksia; tidak semudah mengetik di atas komputer ini.
            Ajeng dan Galih adalah dua sosok manusia lugu yang berjuang untuk tetap “hidup” layaknya orang hidup. Keduanya telah melewati semua. Duka lara disisihkan, diragukan, dicemooh, diabaikan, dan segudang kosakata pasif menyakitkan lain.
            Kau tahu rasanya melihat duka di mata yang senantiasa ceria? Di mata seseorang yang telah begitu dekat dalam rasa dan angan.
Aku sedang berada pada posisi itu. Lebih dari sendu. Jauh dari luka. Juga tak bisa dikatakan hanya duka. Tak ada kata yang tepat untuk melukiskannya (Chaka, 2016:158).

Namun, mereka punya cinta yang menguatkan. Lewat tangan masing-masing, keduanya memberi energi semangat. Apa yang kemudian mereka raih adalah buah kerja keras sendiri.
Mereka mungkin hanya tokoh yang saya ciptakan melalui ilusi panjang. Saya rangkai sendiri jalan hidupnya dengan imajinasi tak terbatas. Namun, saya tak memaknai mereka sebagai bayangan.
Mereka ada dan nyata di dalam hati saya. Mereka yang justru menginspirasi dan memberi saya semangat ketika kata “menyerah” mulai terpikirkan. Dua manusia lugu itu, tokoh fiktifku, yang justru menjadi penguat dalam jiwa ini.

Bogor, 11 September 2016

Lembayung Senja yang Kunanti

0



“Dik, Tante rindu. Tenanglah di sisi-Nya dalam celoteh lucumu.”
Merah jingga warnamu. Terlahir dalam iringan doa dan air mata haru. Terhias oleh tubuh lucu nan menggemaskan. Kamu tumbuh begitu sempurna. Tak tampak sedikit pun cela. Celotehmu melukiskan kelengkapan keluarga kecil yang belum genap dibangun setengah windu. Juga keceriaan lain bagi kakakmu yang masih juga lugu.
            Hari ini, aku mengiringmu. Bukan dengan canda tawa seperti biasa. Namun, dengan tangis duka. Selimut yang serupa warna bunga lembayung menutup tidurmu. Tidur dengan wajah yang lain. Ketenangan dalam kebahagiaan. Meski luka merongrongmu begitu rupa, senyum masih ada. Bukan lagi untukku.
            Pepohonan melambai pada arah perjalananmu. Goncangan di depan menghadang. Namun, kau tak jua gentar. Kau tak lagi merasa. Kau tak lagi menerima susu dalam botol yang selalu kusiapkan ketika kau terbangun.
            Duhai lembayung senja yang kunanti, aku belum sempat mendengarmu memanggilku “Tante”. Aku belum puas menimangmu hingga terlelap dalam tidur siang yang tenang. Aku masih ingin berbaring di sampingmu sembari memeluk dengan kehangatan. Lembayung senjaku, tenanglah dalam pelukan malaikat.

-yang terkenang,
Aufar Zayan Zaneeta Abidin
26 Oktober 2013—14 April 2014
Tenang di sisi-Nya, ya, Dik-