Hidupku, Hidupmu, Hidup Kita

0


Kita pasti sering bertanya, apa sih yang kita cari dari hidup yang sebentar ini? Ah... tentu saja itu pertanyaan klasik setiap individu. Setiap individu menginginkan kehidupan yang terbaik bagi hidupnya yang sebentar. Kehidupan yang nyaman dan penuh kesuksesan. Tapi, apakah kenyamanan dan kesukesan dapat dicapai dengan mudah? Tentu saja tidak. Edgar Alnsel Mowrer menyatakan bahwa, “hidup manusia penuh dengan bahaya, tetapi justru disitulah letak daya tariknya”.
            Ya, ungkapan itu benar. Kehidupan menjadi indah ketika kita dihadapkan pada lika-liku sulit yang menantang. Hidup menjadi berwarna dengan banyaknya bahaya dan masalah. Tapi, muncul lagi pertanyaan, apakah semua individu sanggup menghadapi setiap tantangan dalam hidupnya? Jawabannya sederhana. Seberapa besar motivasimu untuk hidup, maka sebesar itu pula ketegaranmu dalam mengahadapi setiap tantangan hidup. Jika Anda menginginkan sesuatu yang belum pernah Anda miliki, Anda harus bersedia melakukan sesuatu yang belum pernah Anda lakukan.”
            “Sukses adalah sebuah perjuangan, bukan tujuan akhir”. Kesuksesan seseorang diukur dari proses individu tersebut meraih kesuksesannya. Ini tentu berhubungan dengan seberapa besar motivasi dan ketangguhan individu tersebut. Seperti kata Mary Mc Carthy, “Kita adalah pahlawan dari cerita kita sendiri”. Sukses atau tidaknya diri kita bergantung pada diri kita sendiri. Ketika kita yakin BISA, kita PASTI BISA.
Kahlil Gibran mengatakan bahwa, “Keyakinan merupakan suatu pengetahuan di dalam hati, jauh tak terjangkau oleh bukti”. Keyakinan kita, diri kita sendiri yang tahu. Oleh karenanya, seorang individu harus teguh menjaga keyakinannya. Biarkan orang lain bertanya-tanya seberapa besar keyakinan dan keberanian kita. Abaikan mereka dan teruslah melangkah!
Fokuslah pada satu keinginan! Fokus pada satu keinginan memungkinkan pencapaian banyak keinginan. Kita tidak perlu melakukan hal yang besar. Tetapi, kita dapat melakukan hal kecil yang memiliki pengaruh besar. Semua kembali pada individu masing-masing. Kehidupan kita, kita sendiri yang mengatur. Bagaimana hidup kita di dunia tergantung pada seberapa besar keyakinan kita. Jadi, KEEP SPIRIT!!!

Selasa, 14 Mei 2013

Diantara Tiga Jalur

0


“Genremu tuh nonfiksi. Lihat tuh cerpenmu aja kaya nonfiksi.” ucap salah seorang teman.
“Cerpennya bagus, tapi kata-kata yang kamu gunakan terlalu formal. Aku suka tulisanmu yang dulu. Bahasanya enak, topiknya anak muda banget. Hehehe...” ucap salah seorang teman yang lain.
“Ih, tulisanmu kok menye-menye banget sih. Cinta-cintaan, mana kata-katanya alay banget.” ini komentar teman yang lain.
            Halo... kata-kata dalam tiga komentar di atas bikin mikir lho. Jadi, aku ini ada di jalur yang mana? Komentar pertama menyatakan bahwa aku adalah orang nonfiksi. Komentar kedua menyatakan kekurangsukaan terhadap tulisan fiksi seriusku dan sambutannya terhadap tulisan fiksi populerku. Komentar ketiga mengritik pedas tulisan fiksi populerku. Kegalauan pun melanda. Mana diantara tiga genre tersebut yang harus aku seriusi?
            Ah... inilah resiko penulis amatir yang sangat bergantung pada mood. Genre tulisan sangat bergantung pada mood saat menulis. Maunya apa, ya itu yang ditulis. Asyik nulis fiksi serius hasilnya jadi serius banget, sampai susah dipahami. Asyik nulis fiksi populer, eh jadinya populer banget. Kata-kata alay menyebar ke seluruh isi cerita. Kalau lagi pengen nulis nonfiksi, telitinya nggak ketulungan. Aduh....
            Sering sih kepikiran buat menentukan satu genre saja. Namun, terlalu berat untuk memilih diantara tiga jalur tersebut. Ketiga genre tersebut belum ada yang bisa meyakinkanku untuk benar-benar memutuskan pilihan. Belum bisa menguasai ketiganya sih, tapi.... aku suka ketiganya. Tentunya, tergantung mood saat mau nulis sih. Huh, ya sudahlah. Perjalanan masih panjang. Masih banyak waktu untuk belajar dan menentukan pilihan. Biarkan hidup mengalir bagai air. Apapun genreku kelak, itu yang terbaik. Mungkin aku akanjadi seorang penulis fiksi populer. Mungkin juga aku akan jadi penulis nonfiksi. Mungkin lagi aku akan jadi penulis fiksi serius. Mungkin aku akan menjadi penulis nonfiksi, fiksi serius, dan fiksi populer. Atau mungkin aku malah tidak akan menjadi penulis ketiga genre tersebut. Percayakan semuanya pada Allah Yang Maha Kuasa.

Review I’m Somebody Else

0




            I’m Somebody Else merupakan novel pertama Ade Kumalasari, alumnus jurusan Kimia Universitas Gadjah Mada. Meski kuliah di jurusan Kimia, penulis aktif di pers mahasiswa dan pernah menjadi Pemimpin Redaksi Bulaksumur Pos. Novel pertamanya ini diterbitkan oleh Pustaka KataKita pada 2005. Cover novel menggunakan corak warna cerah, diantaranya: orange, cokelat, kuning, dan hijau. Desain sampulnya diwakili oleh sosok seorang cewek berambut pendek dan berkulit sawo matang yang memakai baju kuning dan rok merah.
            I’m Somebody Else menceritakan kisah hidup Alena, seorang artis dan model iklan yang cantik, pintar, kaya, dan terkenal. Ayahnya seorang pengusaha papan atas yang bisnisnya tersebar di seluruh negeri. Setiap hari, Alena menjadi incaran wartawan gosip. Alena selalu berusaha menghindari wartawan. Ketakutan Alena akan wartawan berdampak pada hubungan asmaranya dengan Aska, seorang mahasiswa jurusan Desain Interior. Alena bahkan takut mengatakan ‘ya’ saat Aska menyatakan cinta pada Alena.
Selain hal tersebut, Alena juga dipusingkan dengan salah satu adegan filmnya. Alena dituntut untuk melakukan ciuman dengan lawan mainnya, sedangkan Alena belum pernah ciuman. Karena tidak mau ciuman pertamanya dilakukan untuk adegan film, Alena nekad mencium Aska. Aska yang mengetahui motif Alena menciumnya menjadi marah pada Alena. Aska menjauhi Alena, bahkan sampai Alena pergi ke Jogja untuk kuliah.
Di Jogja, Alena kuliah di jurusan Psikologi Universitas Gadjah Mada. Alena mengganti namanya menjadi Grace. Alena tidak mau ada orang yang tahu bahwa dia adalah artis dan model iklan terkenal yang selalu jadi incaran wartawan. Pada wartawan, Alena mengatakan bahwa dia akan kuliah di luar negeri. Selama di Jogja, Alena banyak dibantu oleh Udin, mahasiswa Filsafat UGM. Udin pula yang mengenalkan Alena pada pers mahasiswa Bulaksumur Pos yang pada akhirnya dipilih Alena sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang dia ikuti. Udin adalah Pemimpin Umum di Bulaksumur Pos.
Eksistensi Alena sebagai wartawan di Bulasumur Pos mencapai puncaknya ketika Alena berhasil membongkar pelaku pencurian alat-alat lab di Fakultas Pertanian. Bersama Udin, Alena didaulat sebagai pahlawan. Keakraban Udin dan Alena menimbulkan cemburu di hati Ruwi, Pemimpin Redaksi Bulaksumur Pos. Kecemburuan Ruwi semakin menjadi ketika Udin menghadiahkan sepotong pelangi untuk Alena. Sayangnya, kecemburuan Ruwi tak beralasan karena Udin tidak menyukai Alena. Sebaliknya, Udin menyukai Ruwi. Udin hanya menganggap Alena sebagai adiknya. Udin pun sudah tahu sejak awal kalau Alena adalah seorang artis. Hal ini terungkap ketika rapat akhir Bulaksumur Pos yang diadakan di sebuah villa di daerah Kaliurang. Udin malah memotivasi Alena untuk menjadi dirinya sendiri dan tidak perlu lagi melakukan penyamaran.
Sebuah kejutan tak terduga untuk Alena. Udin memberitahu Alena kalau Aska menunggunya di villa papanya. Reno, adik Alena, yang membawa Aska untuk kembali memperjuangkan cinta Alena. Di villa itulah, Aska menyatakan cintanya pada Alena. Cerita berakhir dengan bersatunya cinta Alena dan Aska.
Setting novel I’m Somebody Else berlokasi di Jakarta dan Jogja. Tokoh Alena merupakan artis dan model iklan ternama di Jakarta. Karena ingin menghindari kejaran wartawan gosip dan hidup tenang, Alena memutuskan kuliah di Jogja dengan identitas baru. Singapura juga sempat mewarnai setting tempat dalam novel ini. Saat itu, tokoh Alena dan sahabatnya berlibur ke Singapura dalam rangka merayakan hari kelulusan mereka.
Novel ini diceritakan dengan gaya bahasa yang ringan dan khas remaja. Bahasa pergaulan anak-anak Jakarta dengan lo-gue menjadi bahasa yang mendominasi dialog tokoh-tokohnya ketika setting tempat masih di ibukota. Ketika tokoh Alena pindah ke Jogja, bahasa yang digunakan menyesuaikan bahasa masyarakat Jogja yang halus dengan sapaan aku-kamu.

“Gini, Ka,” Alena menggeser duduknya, merapat ke Aska. “Bentar lagi, ‘kan gue lulus. Gue belum mutusin mau nglanjutin kuliah di mana. Nah, denger lo nyeletuk Karl May, gue jadi kepikiran, gimana kalau gue berpetualang aja di suatu kota, menghilang dari Jakarta yang sesak ini dengan menyamar sebagai seorang yang lain...”
..........................................................................................................
“Kamu under estimate sama anak-anak sini, ya? Tidak semua orang seperti yang ada di benakmu, Grace. Teman-teman di sini sangat menghargai arti persahabatan, tidak peduli kamu anak siapa atau seterkenal apa.” Broedin berhenti sejenak, menunggu kata-katanya benar-benar masuk ke kepala Alena. “Kamu tahu Ruwi anak siapa?” tanya Broedin lagi. Alena menggeleng.

Pembaca tidak akan pernah mengalami kesulitan untuk memahami isi novel yang diceritakan secara ringan ini. Meski dalam novel ini terdapat beberapa kata asing, pembaca tidak akan kerepotan karena kata asing yang digunakan adalah kata-kata yang sudah familiar di masyarakat.
            Konflik-konflik yang dibahas di dalam novel ini adalah masalah-masalah yang memang banyak terjadi di masyarakat, khususnya pada remaja. Ketidakstabilan dunia remaja yang penuh keindahan dibahas secara menawan oleh pengarangnya. Gaya hidup remaja ibukota yang glamour tak luput menjadi sorotan pengarang. Sopan santun yang selalu dijunjung tinggi oleh masyarakat Jogja juga diceritakan dalam novel ini. Dari novel ini, pembaca dapat melihat betapa kontrasnya kehidupan remaja Jakarta dengan remaja Jogja meski kedua kota ini adalah kota besar di Indonesia. Remaja Jakarta yang slengekan dan selalu to the point mengalami kesulitan ketika dihadapkan dengan masyarakat Jogja yang senang berbasa-basi.

Dengan bantuan Udin, Alena mendapat kos di daerah Sagan. Kosnya lumayan nyaman, dengan kamar mandi dalam. Ada lima cewek yang kos di sana. Mbak-mbak kosnya tuh baik-baik semua. Ibu kosnya juga baik dan ramah. Jawa banget. Alena susah menyesuaikan diri dengan basa-basi ibu kosnya. Mau bilang tarif kamar aja pakai ngomong panjang lebar dan ber-maaf-maaf segala. Pernah Alena salah mengartikan undangan makan yang tentunya basa-basi dari ibu kos. Dengan cueknya, Alena makan dengan lahap di tempat ibu kos. Setelah cerita ke mbak-mbak kosnya, baru dia tahu kalau itu cuma basa-basi. Pantesan yang lain pada nolak. Alena tengsin banget.

            Gambaran kehidupan remaja Jakarta golongan atas yang glamour dengan kehidupan mahasiswa Jogja yang sederhana pun turut memberi warna tersendiri bagi novel ini. Alena sebagai artis ibukota dan anak pengusaha kaya bebas memanfaatkan kekayaannya tanpa pernah melihat betapa banyak orang yang hidupnya kekurangan. Hanya untuk merayakan kelulusannya, Alena mengajak temannya berlibur ke Singapura. Di Singapura, Alena berbelanja banyak barang yang tentunya menghabiskan banyak uang. Tak tanggung-tanggung, Alena juga membuat pesta bertema Hawaii dengan menu makanan yang hanya dapat disajikan oleh golongan berkelas. Selain itu, Alena rela mengasingkan diri di Bali selama dua minggu hanya untuk menyukseskan acara menyamarnya. Meski begitu, pengarang novel ini tak begitu saja menyajikan kemewahan hidup masyarakat berduit. Pengarang juga menyajikan kehidupan mahasiswa yang sederhana. Bahkan, Alena sendiri mengakui bahwa kehidupan yang selama ini dia jalanani terlalu hedonis.

Semakin lama bergaul dengan anak-anak persma, Alena semakin enjoy dengan kehidupan mahasiswa di Jogja. Bukan kehidupan hedonis yang tiap hari jalan-jalan ke mal atau nongkrong-nongkrong di kafe-kafe. Tapi kehidupan persahabatan komunitas yang kental, sesama mahasiswa kere yang mencari hiburan dengan menonton film-film gratis, menghadiri pameran foto dan lukisan, diskusi peluncuran buku baru dan tentu saja masih setia menghadiri pesta-pesta perbaikan gizi. Alena juga semakin kritis terhadap kebijakan rektorat yang mestinya menyediakan pendidikan murah dan berkualitas untuk para mahasiswa.

Kehidupan Alena setelah menjadi mahasiswa tentunya sangat kontras dengan kehidupannya ketika masih di Jakarta. Namun demikian, Alena menjadi banyak belajar tentang hidup. Alena menjadi semakin menghargai arti persahabatan dan tahu bahwa tidak semua orang memiliki kehidupan seperti yang dia punya. Pengarang tidak hanya menampilkan sisi kemewahan semata, tapi juga mencoba membuka mata pembaca bahwa tidak semua orang dapat hidup dengan mewah.
Novel ini patut digolongkan sebagai novel yang bagus untuk dibaca. Dengan membaca novel ini, pembaca dapat belajar banyak hal. Pembaca dapat belajar cara menyamar karena dalam novel ini diberikan tips menyamar yang baik. Cerita petualang yang menegangkan juga terdapat dalam novel ini. Selain itu, pembaca dapat belajar dunia jurnalistik karena novel ini mengupas secara rinci dunia pers mahasiswa. Pembaca juga dapat belajar memahami privasi orang lain dengan melihat betapa tidak nyamannya tokoh Alena yang selalu diburu wartawan gosip. Sebetapa terkenalnya seseorang, dia memiliki privasi yang harus dihargai oleh orang lain.
            Meski novel ini tergolong bagus, novel ini pun tak luput dari kekurangan seperti halnya novel-novel lain. Pengarang cukup rinci menggambarkan kejadian demi kejadian yang terjadi dalam kehidupan tokoh, tetapi kurang mendalam untuk mendapatkan sebuah cerita yang membekas di benak pembaca. Hal ini dapat dilihat dari kejadian Aska yang tiba-tiba memaafkan Alena dan datang ke Jogja untuk memperjuangkan cintanya. Pembaca hanya tahu kalau Aska datang atas jasa Reno, adik Alena. Pembaca tidak pernah tahu bagaimana bisa Reno mendatangi Aska dan memintanya memperjuangkan cinta kakaknya. Kejadian ini terlihat aneh karena sebelumnya Reno membenci Aska, bahkan berniat menghajar Aska, setelah tahu Aska mempermainkan Alena. Selain itu, kisah Udin yang mencintai Ruwi, bukan Alena, juga terlihat sedikit ganjil. Pasalnya, Udin tidak pernah menunjukkan ketertarikannya pada Ruwi. Udin cenderung sangat membela Alena, bahkan menghadiahkan sepotong pelangi untuk Alena. Di akhir cerita, Udin malah menyatakan cintanya pada Ruwi. Kejadian ini tentu membuat pembaca bertanya-tanya mengapa bisa begitu.
            Pada awal cerita, I’m somebody Else mengangkat kisah kehidupan artis dengan segala tetek bengeknya. Alena sebagai artis ternama merasa sangat terganggu dengan para wartawan gosip. Setiap perilaku Alena, setidakpenting apapun itu, selalu menjadi sorotan publik. Bahkan untuk pergi makan di kantin sebuah kampus pun, Alena mesti menyamar dan menundukkan kepala. Alena merasa semua privasi-nya diumbar ke hadapan publik. Ketika ada adegan ciuman pada salah satu film terbaru Alena, wartawan memberitakannya sebagai cinta lokasi. Cerita seperti ini tentunya sangat berlebihan. Dunia keartisan tidaklah se-ekstrim itu. Hal ini terlihat dari komentar salah seorang pembaca novel ini yang juga seorang artis ternama. Happy Salma dalam komentarnya mengatakan bahwa, “...dunia keartisan tidak selalu seperti yang dijabarkan sang penulis,...”.